Liputanfokus.com CILEUNGSI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor secara resmi menghentikan sementara kegiatan pengolahan sampah domestik menggunakan incinerator yang dikelola PT Aspex Kumbong di Desa Dayeuh, Kecamatan Cileungsi, Senin (12/1/2026). Penghentian tersebut dilakukan setelah ditemukan bahwa aktivitas pengolahan sampah yang berasal dari Kota Tangerang Selatan tidak sesuai dengan perizinan usaha dan persetujuan lingkungan yang dimiliki perusahaan.
Kebijakan ini diambil sebagai langkah preventif dalam rangka perlindungan lingkungan hidup serta menjaga ketertiban tata kelola pengelolaan sampah lintas daerah. Langkah penghentian juga merupakan tindak lanjut atas arahan Bupati Bogor, Rudy Susmanto, menyusul meningkatnya perhatian publik dan pemberitaan media terkait masuknya sampah domestik dari Pemerintah Kota Tangerang Selatan ke wilayah Kabupaten Bogor dengan volume mencapai sekitar 200 ton per hari.
Bupati Bogor, Rudy Susmanto, menegaskan bahwa pemerintah daerah berkewajiban memastikan setiap aktivitas usaha berjalan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku, khususnya yang berkaitan dengan dampak lingkungan dan sosial.
“Sebagai pemerintah daerah, kami harus memastikan seluruh kegiatan usaha memiliki dasar perizinan dan persetujuan lingkungan yang sah. Oleh karena itu, Dinas Lingkungan Hidup kami turunkan langsung ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh,” ujar Rudy.
Ia menambahkan bahwa sebelum langkah penghentian dilakukan, telah ada peninjauan lapangan oleh anggota DPRD Kabupaten Bogor serta pemerintah desa setempat. Hasil peninjauan tersebut kemudian direkomendasikan kepada Pemkab Bogor agar aktivitas pengolahan sampah domestik tersebut tidak dilanjutkan sebelum memenuhi ketentuan perizinan.
Dalam peninjauan lapangan, rombongan Pemkab Bogor yang dipimpin oleh Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor, Tengku Mulya, didampingi Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Camat Cileungsi, unsur Satpol PP, serta Kepala Desa Dayeuh dan perangkat desa, melakukan evaluasi langsung terhadap kegiatan operasional PT Aspex Kumbong.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa PT Aspex Kumbong memang telah mengantongi izin usaha untuk sejumlah bidang, antara lain industri kertas tisu, industri barang dari kertas dan papan kertas, sektor real estate, serta pengoperasian incinerator untuk mengolah limbah yang dihasilkan dari kegiatan industrinya sendiri. Namun demikian, pengolahan sampah domestik yang berasal dari luar perusahaan dinilai sebagai kegiatan baru yang belum tercantum dalam izin berusaha maupun persetujuan lingkungan yang ada.
“Pengolahan sampah domestik merupakan aktivitas yang berbeda secara substansial dan belum memiliki persetujuan lingkungan. Oleh karena itu, Pemkab Bogor memutuskan untuk menghentikan sementara kegiatan tersebut,” tegas Tengku Mulya.
Tengku menjelaskan bahwa pihak perusahaan telah menyatakan niat untuk menyesuaikan kegiatan usahanya. Hal ini dibuktikan dengan perubahan akta pendirian dan Nomor Induk Berusaha (NIB) perubahan ke-1 tertanggal 9 Juli 2025, yang mencantumkan rencana pengolahan sampah sebagai bagian dari kegiatan usaha. Perusahaan juga telah mengajukan permohonan kemudahan dalam proses perubahan persetujuan lingkungan.

