Liputanfokus.com BOGOR – Bulan Rajab, Syaban, dan Ramadhan bukan sekadar penanda waktu dalam kalender Hijriah, tetapi juga momentum spiritual untuk membersihkan diri secara menyeluruh. Rajab menjadi fase pembersihan jiwa dan raga, Syaban membersihkan hati, sementara Ramadhan menyucikan ruh manusia.
Nilai-nilai itu seolah tercermin dalam kisah seorang kakek penjual es roti asal Kabupaten Bogor yang telah puluhan tahun berjualan di kota besar. Sosok sederhana ini mendadak viral di media sosial, bukan karena sensasi, melainkan karena ketulusan hidup yang ia jalani.
Peristiwa tersebut menyadarkan publik bahwa setiap musibah dan kejadian selalu mengandung hikmah, terutama di tengah derasnya arus informasi di era digital. Masyarakat kini dihadapkan pada kenyataan bahwa perhatian sering terfokus pada gawai, hingga tanpa sadar melupakan pelajaran paling mendasar: akhlak, empati, dan prasangka baik.
Di media sosial, tayangan yang tampak baik belum tentu benar-benar baik, sementara informasi negatif kerap dianggap sebagai kebenaran mutlak, padahal belum tentu demikian. Semua bergantung pada cara pandang dan kedewasaan dalam menyikapinya.
Wakil Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Bogor, KH Achmad Yaudin Sogir, menegaskan bahwa kisah kakek penjual es roti tersebut merupakan pengingat penting bagi masyarakat agar tidak mudah memandang rendah sesama manusia, terlebih para pelaku usaha kecil.
"Kita tidak pernah tahu isi hati seseorang. Maka hidup akan lebih selamat dan penuh berkah ketika kita selalu berprasangka baik. Jangan pernah memandang hina siapa pun, apalagi mereka yang mencari nafkah dengan cara halal dan penuh kesabaran,” ujar KH Achmad Yaudin Sogir, Rabu (28/1/2026).
Menurutnya, para pedagang kecil seperti penjual es roti, pedagang asongan di terminal, hingga penjual di lampu merah adalah orang-orang mulia. Mereka memilih bekerja keras dengan tangan sendiri, bukan meminta-minta.
“Tangan di atas jauh lebih mulia daripada tangan di bawah. Para pedagang kecil itu sedang menjaga kehormatan hidupnya dan keluarganya,” tegasnya.
KH Achmad Yaudin Sogir juga membagikan pengalaman pribadinya yang sarat makna. Ia mengaku pernah menjadi pedagang asongan di Terminal Baranangsiang, Bogor, bahkan berjualan di kereta api saat muda.



